Saturday, June 25, 2011

Sukses Diet Chicharito dalam Kepungan Memori Donovan dan ”Reinkarnasi” Adu

TUJUH gol dikemas Javier ‘’Chicharito’’ Hernandez untuk timnas Meksiko di ajang Gold Cup 2011. Bintang Manchester United (MU) yang baru berultah ke-23 ini menorehkan namanya sebagai top scorer sementara di turnamen dua tahunan itu. Si ‘’Kacang Polong Kecil’’ berkesempatan menambah koleksi golnya karena, Sabtu (25/6) malam atau Minggu (26/6) pagi WIB, masih tersisa laga pemuncak melawan tuan rumah Amerika Serikat di Stadion Rose Bowl, Pasadena, California.

Chicharito tidak pernah mengira di Gold Cup performanya sefit ini meskipun ia cukup yakin kontribusinya di MU musim lalu dengan torehan 20 gol masih menunjukkan efeknya. Semua capaian tersebut, ujar mantan pemain Chivas di Meksiko ini, karena disiplin dan diet ketat yang dilakoninya di MU. Disiplin dan diet ketat itu membentuk tidak hanya fisiknya, tetapi juga memengaruhi performanya di lapangan.

‘’Aku bekerja keras di Manchester, bangun pukul 8 pagi, sarapan, lalu berlatih keras, plus latihan sendiri di gym. Aku memang telah dididik oleh orangtuaku bahwa untuk mencapai sesuatu dalam hidup itu harus bekerja keras. Aku tahu bagiku kini sepak bola itu pekerjaan, namun aku juga sangat menikmatinya,’’ ujar Chicharito kepada media Meksiko.

Saat tiba di Manchester, Manajer MU Sir Alex Ferguson melihat bagian atas tubuh Chicharito perlu ‘’dipermak’’. Otot-ototnya juga perlu dipacu. Maka, Sir Alex menugasi Pelatif Fisik Tony Strudwick dan Sport Scientist Gary Walker bekerja sama mendesain program khusus untuk si bocah dari Meksiko itu.

Jadwal latihan tersusun. Dengan kewajiban membuka mata pukul 08.00 pagi, berarti Chicharito bangun satu jam lebih awal dibandingkan rekan-rekannya. Sebelum bergabung dengan rekan-rekan setim di Red Devils dalam sesi latihan bersama, ia wajib berlatih fisik rutin sendirian seperti peregangan (stretching) diikuti latihan beban pembentuk kekuatan otot semisal bench presses, fly presses, dan lateral pulls. Ia harus melaporkan hasil latihan ini kepada tim fitness, tim medis, dan fisioterapis di MU.

Makanannya juga diteliti secara saksama oleh juru masak MU. Saat tiba di Inggris, ia langsung disodori deretan pertanyaan tentang makanan favoritnya di Meksiko. Chefs MU lantas meracik menu baru berkandungan nutrisi tinggi namun rendah lemak yang disesuaikan dengan selera menu Chicharito di kampung halamannya.

Meskipun masih terbilang muda usia, kini Chicharito telah menjelma sebagai icon timnas Meksiko, mengingatkan para penggemar dunia atas nama-nama besar dalam lembaran sepak bola El Tri seperti Jared Borghetti maupun Cuauhtemoc Blanco. Di lini depan ia adalah predator angker atas setiap operan bola kepadanya untuk diceploskan ke gawang lain dengan berbagai skill-nya, seperti backheel cantik saat mencetak gol penentu kemenangan Mekisko 2-1 atas Guatemala di perempat final. Di semifinal saat mengalahkan Honduras 2-0, Chicharito juga mencetak gol kedua Meksiko pada perpanjangan waktu.

Kini ia fokus menatap final Gold Cup 2011 dan hendak mengukir prestasi bersama timnas. ‘’Bermain pada level tinggi seperti di Inggris memberiku banyak keyakinan. Keyakinan itu pula yang sekarang kumiliki. Setiap orang ingin mengalahkan Amerika Serikat untuk memenangi turnamen ini. Begitu pula kami. Motivasi kami begitu tinggi,’’ tuturnya.

Rivalitas AS dan Meksiko di Gold Cup memang bukan hal baru. Sejak Gold Cup bergulir pada 1991 hingga edisi ke-10 kali ini, Meksiko masih merajai dengan torehan lima kali juara berbanding empat kali untuk AS.

Memori Donovan dan Kelahiran Kembali Adu
Stadion Rose Bowl memang di AS. Namun, Meksiko juga akan merasakan itu seperti di rumah sendiri. El Tri yakin komunitas Meksiko di California akan tumpah ruah memberikan dukungan di stadion.
Sedangkan AS juga tidak kalah optimistis. Rose Bowl adalah ‘’stadion keramat’’ yang menyuntikkan spirit sepak bola di Negeri Paman Sam. Di stadion inilah partai final Piala Dunia 1994 berlangsung. Sukses melakukan revans atas Panama di semifinal dengan kemenangan 1-0 melalui gol Clint Dempsey pada menit ke-77 memanfaatkan assist Landon Donovan (pada laga kedua Grup C 11 Juni lalu, Panama mengalahkan AS 2-1), kini skuad Bob Bradley berambisi menyamai perolehan penta Meksiko pada ajang Gold Cup.

Dempsey juga mencetak satu gol dari total kemenangan AS 2-0 atas Jamaika di perempat final lalu. Padahal, menyongsong laga itu performanya diragukan mengingat baru beberapa jam sebelum pertandingan ia baru gabung dengan skuad The Yanks setelah menghadiri pernikahan saudara perempuannya. Begitu pula dengan Donovan.

Menyaksikan Chicharito di skuad Meksiko saat ini, ingatan pun tertuju ke sosok Donovan pada Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang. Saat itu ketika usianya masih 20 tahun, penampilan Donovan begitu cemerlang sehingga menebarkan pesan bahwa dialah bintang terang sekaligus leader permainan di lapangan. Yang diingat publik, kala itu dialah pencetak gol dari kemenangan AS 2-0 atas Meksiko –lawan di final Gold Cup ini. Nama Donovan identik dengan sepak bola AS yang kembali terangkat lagi ke level atas percaturan global.

Sepanjang Gold Cup 2011, performa Donovan dinilai tidak cukup gemilang. Meski demikian, ia telah berkontribusi penting pada saat-saat krusial seperti assist-nya untuk Dempsey yang berbuah gol kemenangan pada semifinal lawan Panama. Siapa tahu ia juga akan kembali ke skill terbaiknya seperti saat menumbangkan Meksiko di Piala Dunia 2002 itu.

Kini publik sepak bola AS tidak lagi menyangsikan kemampuan Bob Bradley, sang pelatih. Tingkat kepercayaan publik terhadap ayah kandung Michael Bradley, pemain di timnas AS, yang sempat berada di titik terendah usai kekalahan atas Panama di penyisihan grup, kembali terdongkrak.

Tidak kalah penting pula, atas ketepatan Bradley memanggil lagi Freddy Adu, si bocah emas yang sempat hilang, ke timnas untuk Gold Cup kali ini. Meski turun sebagai pemain pengganti, Adu berperan penting atas kemenangan AS di perempat final dan semifinal. Manuver Adu-lah yang melahirkan umpan ke Donovan dan selanjutnya mengirimkan bola ke Dempsey untuk diubah menjadi gol ke gawang Panama.

Setiap kali Adu masuk, penonton memberikan aplaus. Publik yakin bahwa kemampuan terbaik Adu belum sirna meskipun ia terombang-ambing dalam ketidaksuksesan di klub-klub elite di Eropa hingga kini terdampar di Turki. Ia memang berhak untuk kembali memperoleh kesempatan bermain di timnas mengingat usianya baru bulan lalu genap 22 tahun.

Begitu pula dengan para pemain timnas AS yang melihat Adu telah kembali pada performanya. ‘’Umpan luar biasa dari Freddy itu yang membuat Landon bisa mengirimkan bola untuk saya jadikan gol. Luar biasa, Freddy. He’s back,’’ ujar Dempsey.

Bagaimanapun, Adu adalah salah satu penanda penting dalam tonggak gairah publik AS terhadap sepak bola. Pada 2004 lalu, ia menjadi atlet termuda yang meneken kontrak profesional ketika usianya baru 14 tahun. Adu telah menginspirasi banyak generasi muda di AS untuk bermain sepak bola.

Pelatih Bradley mengatakan, saat memanggil Adu untuk Gold Cup ini, mula-mula cukup banyak yang meragukan keputusannya itu. Namun, Bradley yakin akan ada hasilnya. Saat latihan kali pertama di kamp timnas, Adu memang kelihatan canggung, namun perlahan-lahan mampu mengatasinya.

‘’Sejak hari pertama di kamp, Freddy terus mencatat kemajuan. Kesempatan di semifinal itu telah mengembalikan tidak hanya potensi yang ada dalam dirinya, tetapi juga keyakinannya. Penting untuk memberinya kesempatan dan saya kira semua yang ada di tim ini juga merasakannya,’’ ucap Bradley.




No comments:

Post a Comment